Menipu Diri Sendiri

Menipu Diri Sendiri

Menipu Diri Sendiri

Penguasa yang memiliki segala sarana untuk menjalankan kekuasaan biasanya pandai dalam hal rekayasa. Ia punya media, jaringan dana, lembaga propaganda, kekuatan senjata, bahkan legitimasi agama. Semua digunakan untuk memperbesar kekuasaan atau memproteksi dari gangguan yang menerpa. Penguasa selalu merasa benar dengan kebijakannya. Menganggap kritik sebagai sikap tak tahu jasa dan kerja. Pada tingkat ekstrim baginya “negara adalah saya”. Kemampuan tinggi rekayasa dilakukan untuk dua hal yaitu memperpanjang kekuasaan dan menghakimi yang mencoba menggoyahkan. Tipu tipu dianggap biasa. Menipu lawan bahkan rakyat dibahasakan demi kebaikan rakyat itu sendiri. Disinilah sebenarnya ia sedang menipu dirinya sendiri.

Al Qur’an mengingatkan perilaku buruk para penguasa yang merasa benar ini.

“Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya” (QS 6:123).

Allah menyebut penguasa tukang tipu tipu ini sebagai pembesar yang jahat (akaabiro mujrimiiha) dan Allah menegaskan pula bahwa menipu negeri sama dengan menipu diri sendiri (wama yamkuruuna illa bi anfusihim). Teriak dan menuduh makar sesungguhnya dia lah yang berbuat makar itu. Hebat sekali Allah menunjukkan karakter penguasa secara universal dengan kalam di “setiap negeri” (fii kulli qaryah).

Dimana saja tak terkecuali di Indonesia, jika penguasa juga mencoba gemar membohongi rakyat, merekayasa ceritra agar masyarakat percaya, mendahulukan pencitraan ketimbang kenyataan, curang, menuduh nuduh makar, memecah belah, memusuhi keadilan dan kebenaran, ataupun menganggap kebijakan dirinya selalu benar dan tak bisa dikritik apalagi dihukum, maka itu adalah “akaabiro mujrimiiha” para pembesar yang jahat. Mereka adalah pengabdi kekuasaan. Lalu dari kekuasaan didapat kekayaan dan kesejahteraan diri, keluarga, dan kelompok. Slogan atau program kerakyatan ditempatkan sebagai batu loncatan. Kenyataanya adalah melanggengkan kekuasaan.

Dalberg Acton pernah menyatakan “power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely” (Kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan mutlak pasti menyebabkan korupsi). Memang benar jika kekuasaan itu diberikan berlebih pasti korupsi. Korupsi uang, korupsi jabatan, korupsi hukum, korupsi ideologi. Agama juga dikorupsi. Semua dimanfaatkan untuk kepentingan pendek. Masalahnya si penguasa nya sendiri tidak menyadari dirinya korupsi. Begitulah tipu tipu kekuasaan. Merusak dan menghancurkan negeri tapi ia tak peduli dan menyadari. Rasanya ia tetap berbuat baik. Ini boleh kita sebut “Nero Syndrome”.

Kaisar Nero sengaja membakar kota Roma lalu dia duduk dan bersenandung sambil bermain harpa. Hilang rasa berdosa. Dia telah berjasa bagi negara. Roma yang dibakar.
Untung bukan di negara kita. Republik Indonesia.

Bandung, 31 Mei 2019

M. Rizal Fadillah