Amplop luhut

Serba Duit

Amplop luhut

Jokowi bagi amplop duit untuk cari dukungan. Luhut bagi amplop duit ke ulama cari simpati. Timses menyiapkan gepok dan amplopan duit untuk suara. Duit duit dan duit.

Lirik lagu Rhoma Irama mengingatkan
“Di dunia sekarang uang jadi pedoman//Banyak orang berkata uang berkuasa//Mereka berlomba untuk memperolehnya//Tanpa menghiraukan halal dan haramnya//Begitulah manusia di dunia sekarang…”
Dalam politik, uang ikut bermain. Kini semakin terang terangan. Pelesetan sila kesatu Pancasila adalah Keuangan Yang Maha Kuasa. Kandidat Jokowi sudah tak malu mempraktekkan bagi bagi uang demi suara. Asumsinya rakyat butuh uang. Beri saja dan penuhi kebutuhannya. Bawaslu atau KPU tak berkutik dengan manuver seperti ini. Hanya mencatat. KPK bisa mengimbau jangan pilih. Selesai.

Bahaya luar biasa melanda negeri ini. Revolusi mental menemukan bentuk terparah. Moralitas hancur. Ada 4 hal bahaya serius yang dihadapi.

Pertama, jika suara rakyat dinilai dengan uang, maka pragmatisme, materialisme, dan hedonisme menjadi ideologi Negara. Percuma bicara Pancasila hanya lip service saja. Jokowi mengubah way of life bangsa dengan uang.

Kedua, penistaan rakyat. Betapa murahnya harga diri rakyat. Malu kita kepada the founding fathers yang mendirikan negara dengan semangat meningkatkat harkat bangsa. Mengubah karakter budak terjajah menjadi jiwa merdeka. Dinistakan dengan amplop. Ulama kena pula.

Ketiga, demokrasi dicederai. Rakyat tak berkuasa, penguasa dan pemilik modal adalah penentu arah negara. Khilafah dianggap musuh demokrasi dihancurkan, syari’at dimasalahkan. Demokrasi diobrak abrik oleh uang. Rezim model apa ini.

Keempat, revolusi mental gagal. Tak perlu lagi mendengungkan revolusi mental karena sudah tak relevan lagi. Kini saatnya bangun revolusi moral, karena moralitas hancur oleh faktor pembangunan yang berorientasi pada materiel. Kultur malu telah hilang.

Memilih Jokowi melanjutkan budaya buruk yang sudah jelas. Pilihan alternatif adalah membangun harapan untuk perubahan. Benar pernyataan bahwa pertarungan kini adalah antara akal sehat dan akal tak sehat. Negara hukum dan negara kekuasaan. Uang dan ideologi. Logika kekuatan dengan kekuatan logika.
Indonesia memang berada disimpang jalan.

**7 April 2019**

M. Rizal Fadilah