Bravo Egg Bay

Bravo Egg Bay

Bravo Egg Bay

Dunia membicarakan keberanian remaja kulit putih Australia Will Connally yang mendekati Senator Fraser Anning yang sedang berbicara menyalahkan umat Islam dalam kaitan drama penembakan sadis di dua Masjid New Zealand. Setelah dekat sambil merekam ia pecahkan telur ayam di kepala sang Senator yang tentu kaget dan marah. Remaja itu kemudian digelari “Egg Boy” bocah telur. Atas keberaniannya ia mendapat simpati baik berupa pengumpulan dana maupun undangan dari berbagai Negara termasuk Uni Emirat dan Turki.

Sikap melawan atas kezaliman terhadap umat Islam ini memang menarik. Senator “gila” tak berperasaan itu patut untuk dinistakan. Di tengah keprihatinan atas tindakan tak berperikemanusian justru ada tokoh yang membela pembunuhan keji dan menyalahkan umat Islam yang jelas jelas menjadi korban kekerasan dan kebiadaban tersebut. Telur yang dipecahkan di kepala Senator gila ini sangatlah layak. Bravo Egg Boy..!.

Penembakan yang direkam sendiri itu dilakukan oleh tiga laki laki dan seorang wanita yang tentu saja “Kafir” eh “Non Muslim”. Kita tak boleh menyakiti mereka dengan sebutan kafir. Qur’an juga sudah diterjemahkan lebih santun demi mereka. Nah kini kita menyaksikan betapa jahat, keji, dan “binatang” nya Non Muslim. Non Muslim yang memiliki dendam sejarah “The Crusades” itu kini mengulang lagi “perang” dengan aksi terorisme di Christchurch New Zealand. Sayang si Non Muslim luar biasa pengecutnya berperang dengan menembaki orang yang sedang beribadah di Masjid. Jika berani berperanglah “berduel” seimbang. Tapi memang begitulah dasar Non Muslim justru ia mempertontonkan ketololan dan kepengecutannya. Membunuh orang yang tak berdaya.

Walaupun demikian tetap saja ada yang menyalahkan orang Islam seperti si gila Anning. Predikat teroris tetap dilekatkan pada Muslim, meski teroris itu terbukti Non Muslim. Ada yang menulis di media sosial seperti ini :

I am Muslim
Isis kill me in Syria and Iraq
Jews kill me in Palestine
Hindus kill me in Kashmir
Budhist kill me in Burma
Christians kill me in Afghan and Africa
And still I am “The Terrorist”

Peristiwa New Zealand menyadarkan dunia bahwa Non Muslim menjadi teroris yang berbahaya. Ironi jika Indonesia melihat umat Islam adalah teroris. Sehingga menjadi fokus dari gerakan penangkalan terorisme dan deradikalisasi. Teroris Non Muslim adalah teroris “asli” yang melakukan aksi secara sadar dan mandiri, sedangkan “teroris” umat Islam sebagian besar adalah produk rekayasa politik global maupun lokal. Bagian dari proyek bisnis mondial yang ditangkap keuntungan material oleh para pengambil kebijakan di tingkat nasional atau lokal. Perekayasa memang harus dipecahkan telur di kepalanya. Atau kepalanya dipecahkan saja karena “otak negatif” nya tidak dibutuhkan dan sangat merusak. Bravo Egg Boy…!

Bandung, 18 Maret 2019
M. Rizal Fadilah