Ohh Rommy

Ohh Rommy

Ohh Rommy

Operasi Tangkap Tangan KPK berhasil membekuk Romahurmuziy. Kini dalam status tahanan KPK dengan seragam korps “Rompi Oranye”. Warna yang jelas dan terang benderang. Seterang kasusnya. Dalih pembelaan diri adalah “dijebak”. Lupa bahwa pola ini bagian strategi KPK yang mengendus kebiasaan yang bersangkutan dalam bertransaksi.

Pola suap menyuap, termasuk soal jabatan sebenarnya tidak terjadi hanya di Kemenag. Akan tetapi mungkin karena terlalu mencolok, kebiasaan yang lebih masif, atau juga Kemenag adalah target perusakan citra lembaga keagamaan, maka hal itu menimpa padanya.

Yang menyakitkan kini Rommy ditinggalkan dan justru diklaim menjadi obyek “prestasi” atasan dan sahabatnya. Pernyataan yang keluar adalah Jokowi hebat dalam memberantas korupsi, Rommy pun ditangkap. Ini sama saja dengan menganiaya teman. Kurang apa jilatan sang Ketum Partai ini pada Jokowi. Balasannya adalah pernyataan bangga dan prestasi Pemerintah. Tidakkah mereka faham bahwa KPK bukanlah aparat pemerintah ? Dia merupakan lembaga independen yang dibentuk berdasarkan undang-undang. Tak ada hubungan dengan prestasi Jokowi.

Ramahurmuziy memang berkuasa di jalur “instansinya”. Sebagai Ketum Partai di era “Ketum-krasi” Kementrian Agama seolah menjadi tempat bermain sehari-hari. Ia pun ditangkap ketika bermain ke Kanwil Jatim. Negara ini akan kacau balau jika dominan ketua partai menentukan jabatan di instansi yang dipimpin oleh orang dari partainya itu. Budaya inilah yang harus kita rombak. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah pengkotakkan lahan untuk bagi-bagi bancakan. Dulu Rommy bukan siapa siapa. Kader biasa. Namun ketika berhasil menjadi Ketum, maka berubahlah ia menjadi Raja. Si cepot jadi Raja. Klaim diri adalah “Rommy Koco”. Hanya sayang mestinya bisa terbang, tapi ternyata tak bisa kemana mana, akan diam di penjara saja.

Jika benar tertangkapnya Rommy adalah prestasi Jokowi, maka besok “teman-teman” lain berpotensi menjadi korban. Setia Novanto dan Idrus Marham sudah lebih dulu.
Dalam bermain catur, Raja sering melepas Perwira bahkan Menteri jika posisinya semakin terdesak. Yang penting diri aman. Sebenarnya wajar yang berbuat salah menanggung akibat dari perbuatannya. Siapa pun dia. Mau masyarakat kebanyakan ataupun pejabat. Pengusaha atau cendekiawan. Tokoh politik atau Presiden. Semua berkedudukan sama di depan hukum. Demikian Konstitusi Negara menyatakan. Bila dibeda-bedakan maka itu artinya melanggar dan mengkhianati Konstitusi.

Rommy mungkin kini sedang merenungi nasib “sial” yang menimpanya. Menyesal mengapa masuk jebakan di Kanwil–Bukan menyesal biasa memalak jabatan–Nasi sudah menjadi bubur, meski bubur itu terasa hambar karena sedang tak enak makan dan gelisah tidur. Terbayang tertawa “cengengesan” nya saat bersama Bapak Jokowi melempar amplop uang dari jendela mobil. Terbayang berpakaian Gatot Koco dengan kumis tebal nya. Terbayang saat berbisik pada Mbah Moen supaya doa itu diralat. Kini bayangan seperti itu hilang dan yang muncul adalah bayangan laki-laki pesakitan yang berada di balik jeruji besi.
Oh Rommy…

Bandung, 17 Maret 2019
M. Rizal Fadilah