Dua Kejutan

Dua Kejutan

Dua Kejutan
Dalam selisih satu hari dua kejutan di beritakan yaitu penembakan jamaah dua Masjid di Christchurch Selandia Baru dan Operasi Tangkap Tangan Romahurmuziy di Jawa Timur. Memang tidak ada hubungan satu dengan yang lain, akan tetapi publik terhenyak oleh dua peristiwa yang sama-sama kriminal tersebut.

Teroris sayap kanan yang anti migran menurut kepolisian Selandia Baru yang melakukan penembakan “gila dan membabi buta” yang menimbulkan korban puluhan jamaah sholat Jumat Masjid Deans Avenue dan Masjid di Linwood Avenue tersebut. Kelompok teroris penebar kebencian rasial dan keagamaan ini menjadi semakin brutal di New zealand. Tentu dunia mengutuk peristiwa biadab ini. Pelaku telah ditangkap dan kini dalam proses pemeriksaan.

Sementara pelaku korupsi di Indonesia yang tertangkap Rommy Ketum PPP juga dalam proses pemeriksaan. Ruang Menteri Agama digeledah dan disegel. Rupanya KPK mencium aroma korupsi ini sampai ke ruang Menteri Agama. Diduga korupsi berhubungan dengan pengisian jabatan-jabatan di lingkungan kemenag. Bukti uang yang “ada di tangan” memang kelas “recehan” seratus juta. Namun ya suap itu korupsi juga. Rommy yang selalu “nempel” dengan Jokowi rupanya kena batu nya. Sang pelindung tak mampu menolong atau sengaja dilepaskan ? Itu rahasia dalam.

Rommy baru saja mengisi dunia pemberitaan. Mulai dari video “cengengesan” bersama Presiden yang bagi bagi amplop dari mobil, meralat do’a Kyai Maimun, hingga tuduhan pengganti ideologi yang berada di belakang Prabowo. Orang melempar kalimat “kualat” atas penangkapan ini. Lingkaran dalam Jokowi kaget, tapi cepat berujar bahwa rezim Jokowi hebat karena tak pandang bulu memberantas Korupsi. Teman dekat juga disikat. Tapi masyarakat justru melihat ujaran model begini hanya lucu lucuan saja. Mana bisa dipercaya. Bagian dari kebohongan berkelanjutan.

Kita merasa ngeri dengan pembunuhan masal di tempat ibadah. Marah atas kejadian diluar batas kemanusiaan Christchurch. Tapi kita juga prihatin atas korupsi yang terjadi di negeri kita sendiri. Ngeri korupsi yang merajalela dan semakin nekad. Seolah tak ada efek jera dari berbagai peristiwa.
Korupsi adalah perbuatan “membunuh” massal harta rakyat. Pantas jika Islam menegaskan gugur dalam membela nyawa dan mempertahankan harta adalah syahid. Pembunuhan masal dan korupsi atau suap menyuap sama saja bahayanya.

Dua pelajaran penting bagi kita, pertama teroris jangan hanya dituduhkan pada umat Islam, radikalis kristen juga bisa jadi teroris. Siapapun bisa. Moga bapa Densus menyadari. Kedua, penjilat kekuasaan nyatanya juga tidak selamat. Berlindung pada penguasa bukan jaminan. Moga para penjilat menyadari. Presiden pun belum tentu selamat. Apalagi menjilat dirinya sendiri. Hanya anjing yang gemar menjulurkan lidahnya. Siap menjilat kesana sini.

Bandung, 16 Maret 2019
by M Rizal Fadillah