Tentang Tol Langit

Tentang Tol Langit

Tol Langit
Tol Langit

Cawapres Ma’ruf Amin menyampaikan “prestasi” Jokowi yang bukan saja membuat tol darat dan tol laut, tetapi juga tol langit. Yang dimaksud tentu jalur bebas hambatan jaringan internet seluruh Indonesia melalui proyek Palapa Ring. Kontan saja istilah “tol langit” menjadi bahan komentar di medsos ada yang serius ada yang nyinyir ada juga yang lucu lucuan. Yang paling serius adalah klaim proyek jaringan sinyal serat optik “Palapa Ring” sebagai prestasi dan gagasan pemerintahan Jokowi, padahal proyek ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yang nyinyir mengingatkan bahwa dari mana gerbang mulai masuk jalan tol langit dan langit adalah space yang asasinya memang “tanpa hambatan”. Yang lucu lucuan diantaranya tol langit adalah jalan Jokowi menuju “langit” ilahi. Jalan bebas hambatan menuju kematian. Lalu setelah tol langit akan dibuat tol bawah tanah, kuburan..!

Internet adalah realitas zaman, jaringan yang luas tentu membangun kesempatan untuk ikut maju ke ruang peradaban. Namun seperti ilmu dan alat lain, media yang menggunakan internet tidak bebas nilai. Bisa memberi manfaat atau merusak. Sangat tergantung pada siapa yang menggunakan. Internet tell us how to heal and how to kill. Generasi tanpa nilai akan merusak atau dirusak atau dijerat oleh jaringan internet. Karenanya tetap perlu pembinaan dan bimbingan. Bebas dari hambatan nilai (value free) adalah bahaya besar bagi bangsa dan negara.

Jagat raya atau langit “as samawat” itu milik Allah. Ada tujuh lapis langit. Manusia kalau mampu dipersilahkan mengolahnya. Meski diingatkan tingkat kesulitan untuk “menguasainya”. Pandangan melihat “langit” semata sebagai materi tidak akan mampu menembus keagungan Allah SWT. Langit harus dimaknai utuh tidak hanya dimensi materiel, tapi juga sebagai jalan spritual untuk neningkatkan keimanan. Allah lah “dzil ma’arij” yang punya tangga naik ke langit. Shalat itu “mi’rajul mu’minin” naiknya mu’min ke langit. Tol langit adalah pengabdian total kepada Allah tanpa kepentingan “duniawi” yang menghambatnya.

Jabatan Presiden adalah “tol langit” jika jabatan itu ditunaikan sebagai amanah. Membawa rakyat pada kebaikan untuk menjadi manusia yang taat agama serta berkontribusi bagi sesama. Ambisi ingin jadi Presiden karena kekayaan, kebanggaan, atau jaminan kesejahteraan keturunan adalah hambatan dari pengabdian. Apalagi pakai bumbu bohong dan kepura puraan pasti jadi benturan. Melawan jalan “syari’at” dengan curang, zalim, dusta, menyandera ataupun korupsi adalah jalan tol untuk jatuh meluncur dari langit.

Tak perlu tertalu tinggi bermain-main dengan tol langit baik pemimpin negeri atau kyai jika fakta yang ada adalah semata mengejar kekuasaan dunia. Sebab ada kalanya Allah beri amanat sederhana tapi hendak memuliakan hamba-Nya. Namun ada pula yang Allah SWT beri jabatan tinggi “setinggi langit” untuk menghinakan dirinya dengan kejatuhan dari ketinggian itu. Naudzu billahi min dzalik.

Bandung 6 Maret 2019
M. Rizal Fadilah